5 Fakta yang Jarang Diketahui Mengenai Majalah Bobo

Ketika belum ada smartphone, hal yang paling ditunggu adalah nonton kartun di hari minggu atau main sama teman, ada satu lagi hal yang paling ditunggu anak-anak generasi 90-an. Ya, apalagi kalau bukan menunggu majalah Bobo terbit. Waktu itu, majalah Bobo layaknya media sosial untuk generasi milenial.

Soalnya membaca majalah Bobo itu bikin candu dan bakalan bikin nangis kalau kelewatan satu edisi saja. Selain itu juga berkat maajalah Bobo anak-anak zaman dahulu jadi suka membaca karena dalam majalah tersebut telah dipadukan antara tulisan dan gambar-gambar yang menarik. Apalagi kalau edisinya punya bonus yang limited edition gitu, bakal rela untuk nabung jauh-jauh hari biar bisa beli.

Majalah Bobo adalah salah satu majalah anak-anak tertua di Indonesia, dan memiliki segudang catatan sejarah. Majalah Bobo sudah menjadi bahan bacaan populer bagi anak-anak Indonesia sejak hampir lima dekade terakhir. Majalah tersebut terbit pertama kali di Indonesia pada 14 April 1973. Berarti itu artinya Bobo telah merayakan ulang tahun yang ke-49 tahun.

Sayangnya, Kompas Gramedia (KG Media) telah mengabarkan bahwa untuk majalah Bobo Junior secara resmi berhenti terbit dan edisi terakhirnya terbit pada tanggal 21 Desember 2022 kemarin. Tahun telah berganti baru, begitu pula dengan kehidupan Bobo Junior. Majalah Bobo Junior pamit dengan alasan yang masih belum kita pahami secara detail. Bobo Junior mungkin rupanya berniat mengajari pembaca untuk belajar merelakan, karena setiap perjumpaan pasti titik perpisahan.

5 Fakta Majalah Bobo

Majalah yang identik dengan ikon kelinci berwarna biru dengan memakai baju berkupluk merah ini ternyata tidak asli dari Indonesia loh EDOOers, padahal kalau dilihat-lihat isinya sih seperti anak kecil Indonesia pada umumnya. Namun, ada beberapa fakta yang mungkin EDOOers belum ketahui. Biar informasimu semakin bertambah sekaligus nostalgia masa kanak-kanak, yuk kepoin fakta-fakta menarik seputar majalah yang melegenda satu ini, yuk lah!

  1. Berawal dari Harian Kompas

Pada mulanya, harian Kompas ingin membuat halaman yang dikhususkan untuk anak-anak dan terbit pertama kali pada tahun 1965. Setelah itu munculah sebuah ide brilian dari pendiri surat kabar yaitu P.K. Ojong dan Jakob Oetama, untuk mengembangkan menjadi suatu majalah anak-anak yang saat ini kita sebut majalah Bobo.

Mereka lantas mempercayakan tanggung jawab dalam pengembangan majalah tersebut kepada J. Adi Subrata dan Tineke Latumeten. Adi Subrata merupakan salah satu pendiri majalah Intisari dan aktif sebagai wartawan harian di Kompas. Tineke Latumeten juga merupakan wartawan harian Kompas.

2. Majalah Anak Pertama Indonesia yang Diadaptasi dari Belanda

Akhirnya Harian Kompas memutuskan untuk kerja sama dengan majalah Bobo Belanda untuk membuat majalah Bobo versi Indonesia. P.K Ojong dan Jakob Oetama membeli lisensi penerbitan dari majalah Bobo Belanda. Selanjutnya mereka mempunyai ide untuk menggabungkan rubrik anak-anak di Harian Kompas sebanyak 16 halaman dengan Bobo versi Belanda. Kala itu majalah Bobo semua halamannya masih memakai kertas koran, dan menjadi majalah anak-anak pertama yang berwarna.

Berangkat dari banyaknya peminat di Indonesia, akhirnya isi majalah bobo seluruhnya dikerjakan oleh tim redaksi majalah Bobo di Indonesia. Meskipun dulunya majalah Bobo merupakan hasil terjemahan dan konsep awal dari majalah Bobo Indonesia mencakup 75 hingga 80 persen murni dari Belanda, sedangkan bagian murni yang dihasilkan redaksi di Indonesia adalah konsep cerita Bobo saja.

Namun, sejak menerapkan revolusi tahun 1980-an dengan berkat upaya negoisasi rutin dilakukan oleh Tineke Latumeten yang rajin ke Belanda. Akhirnya pada periode tersebut isi majalah Bobo secara mayoritas resmi lepas dari pengaruh Belanda, dan sekarang isinya pun makin variatif. Majalah Bobo sudah terbit di Indonesia sejak 14 april 1973, sedangkan di Belanda sudah sejak tahun 1968.

3. Nama-Nama Karakter Terinspirasi dari Nama Belanda

Majalah Bobo yang awalnya berasal dari Negeri Kincir Angin, beberapa karakter dalam majalah tersebut pasti yang EDOOers tahu itu, ternyata diberi nama dari majalah aslinya, loh. Misalnya seperti Bibi Teliti dari nama aslinya Pieta Secuur dan Paman Gembul yang merupakan translitan nama Oom Slokop. Ada lagi Upik yang diambil dari nama Boemsi, Bibi Tutup Pintu yang diambil dari nama Tante Deur-Dicht, Tut-tu dari nama Tsjoek-tsjoek, dan Coreng diambil dari nama Krabbel, sedangkan untuk nama Bobo akan tetap diberi nama Bobo, apabila berganti nanti nama majalah yang EDOOers kenal ini bukan Bobo lagi.

4. Bobo dalam Dunia Nyata Punya Channel Youtube

Pasti selama ini EDOOers hanya mengenal Bobo and the gank lewat versi gambarnya saja kan di majalahnya. Namun, nyatanya Bobo punya channel youtubenya sendiri loh. Namun kalau EDOOers penasaran bagaimana sosok Bobo and the gank dalam dunia nyata, EDOOers dapat melihatnya di akun youtube Bobo Belanda dengan nama channelnya adalah Bobo • Officieel Kanaal!. Saat EDOOers melihat di channel youtubenya tidak perlu membayangkan lagi sosok rumah para kelinci yang berada di atas pohon, semua tampak asli layaknya kehidupan manusia normal pada umumnya. Seru ya!

5. Meskipun Berasal dari Belanda, Namun ada Beberapa Rubrik Asli Indonesia

Tenang-tenang EDOOers, meski aslinya majalah Bobo dari Belanda, ada beberapa rubrik di dalam majalah Bobo yang hanya ada dalam majalah Bobo di Indonesia. Beberapa rubrik tersebut ialah Oki dan Nirmala serta Bona dan Gajah Kecil Berbelalai Panjang yaitu Bona dan Rongrong.

Siapa yang bisa melupakan cerita tentang kehidupan Negeri Dongeng yang sejahtera ini? Pastinya selalu ingat dong, tentang Oki si kurcaci usil, nakal, dan suka membuat keributan yang selalu memakai baju hijau, serta Nirmala si peri cantik yang selalu siap mengayunkan tongkat ajaibnya untuk membela kebenaran dan menciptakan keajaiban. Nggak apa-apalah EDOOers kita ajak nostalgia sejenak dengan kebaikan-kebaikan di Negeri Dongeng yang sepertinya sulit ditemukan di dunia nyatan ini. Yah, namanya juga Negeri Dongeng.

Sementara itu, Bona si Gajah Kecil Berbelalai Panjang merupakan cerita tentang seekor gajah berwarna pink bernama Bona dan sahabat baiknya yang seekor kucing bernama Rongrong. Belalai bona ini sangat fleksibel banget dan bisa bermanfaat untuk berbagai hal, mulai dari jadi keranjang sampai jadi net saat ingin bermain voli. Ada saja hal yang hraus dihadapi persahabatan dua hewan ini, tapi untungnya Bona si gajah kecil yang baik hati dan nggak suka neko-neko. Hobinya utamanya menolong orang lain.

Demikianlah 5 fakta yang jarang diketahui mengenai majalah Bobo yang legendaris ini. Mengingat majalah Bobo sudah setia menemani masa bermain dan belajar anak Indonesia sejak tahun 70-an, rasanya kurang adil kalau kita nggak berikan apresiasi dan berterima kasih pada kehadiran majalah satu ini, karena sudah membantu pembentukan karakter bagi anak-anak Indonesia dengan semua informasi dan wawasan pengetahuannya. Meskipun sekarang Bobo sudah punya banyak saingan, paling nggak selalu ada ruang untuk si kelinci biru berbaju merah ini di kenangan EDOOers semua. Iya, nggak? 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *