Skip to content

Mengapa Semakin Dekat Matahari, Puncak Gunung Justru Semakin Dingin? Inilah Penjelasannya!

EDOOers mungkin pernah bertanya-tanya, “Mengapa suhu di puncak gunung lebih dingin atau sejuk dari pada suhu di dataran rendah? Padahal secara logika, jarak dari puncak gunung ke matahari terasa lebih dekat.”

Matahari dan Bumi memiliki jarak sekitar 150 juta kilometer. Ketika kita berada di puncak gunung tertinggi di dunia, yaitu puncak Everest, manusia hanya mendekat dengan matahari sejauh 9 km,

Melihat jarak Matahari ke Bumi yang sangat jauh, perbedaan ketinggian di wilayah 0 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan puncak Everest relatif tidak signifikan. Lantas, apa sebabnya pegunungan lebih dingin dibandingkan dataran rendah? Yuk EDOOers, kita simak penjelasannya!

Atmosfer dan Lapisan-Lapisan Udara

Atmosfer bumi terdiri dari beberapa lapisan yang memiliki karakteristik dan fungsi yang berbeda-beda. Lapisan-lapisan ini termasuk troposfer, stratosfer, mesosfer, dan termosfer. Troposfer adalah lapisan terendah atmosfer, tempat di mana semua fenomena cuaca terjadi, dan lapisan ini adalah fokus utama dalam pembahasan mengenai penurunan suhu dengan ketinggian.

  • Troposfer

Troposfer memanjang dari permukaan bumi hingga sekitar 8-15 kilometer di atas permukaan, tergantung pada lokasi (lebih tebal di daerah khatulistiwa dan lebih tipis di kutub). Suhu dalam troposfer menurun seiring dengan peningkatan ketinggian. Penurunan ini dikenal sebagai “lapse rate” dan rata-rata sekitar 6,5°C per kilometer.

Tekanan Udara dan Ketinggian

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi suhu di berbagai ketinggian adalah tekanan udara. Tekanan udara menurun seiring dengan meningkatnya ketinggian karena jumlah molekul udara berkurang. Pada permukaan laut, tekanan udara lebih tinggi karena lebih banyak molekul udara yang menekan ke bawah. Saat kita naik ke ketinggian yang lebih tinggi, tekanan ini berkurang karena molekul udara lebih tersebar.

  1. Proses Adiabatik

Perubahan suhu udara seiring dengan perubahan ketinggian sebagian besar disebabkan oleh proses adiabatik. Proses ini terjadi tanpa pertukaran panas dengan lingkungan sekitarnya. Ada dua jenis proses adiabatik yang relevan di sini: proses adiabatik kering dan proses adiabatik basah.

  • Proses Adiabatik Kering

Ketika udara naik, ia mengalami penurunan tekanan dan mengembang. Ekspansi ini menyebabkan pendinginan udara. Dalam kondisi kering (tidak ada kondensasi uap air), udara mendingin pada laju sekitar 9,8°C per kilometer, yang dikenal sebagai “dry adiabatic lapse rate”.

  • Proses Adiabatik Basah

Jika udara mengandung uap air dan mencapai tingkat di mana kondensasi terjadi (biasanya sekitar 100% kelembapan relatif), proses adiabatik basah berlaku. Kondensasi melepaskan panas laten, yang mengurangi laju pendinginan. Laju ini sekitar 5-6°C per kilometer dan dikenal sebagai “moist adiabatic lapse rate”.

Pengaruh Radiasi Matahari

Selain proses adiabatik, radiasi matahari juga mempengaruhi suhu di berbagai ketinggian. Bumi menyerap energi matahari dan memanaskan permukaan, yang kemudian memanaskan udara di sekitarnya melalui konduksi dan konveksi. Pada ketinggian yang lebih tinggi, jumlah permukaan bumi yang memanaskan udara lebih sedikit, sehingga udara di ketinggian lebih tinggi lebih dingin.

  • Absorpsi dan Emisi Radiasi

Permukaan bumi memancarkan radiasi inframerah yang diserap oleh gas-gas rumah kaca di atmosfer, seperti karbon dioksida, metana, dan uap air. Proses ini memanaskan atmosfer bagian bawah. Di ketinggian yang lebih tinggi, konsentrasi gas-gas ini lebih rendah, sehingga kemampuan atmosfer untuk menyerap dan memancarkan radiasi panas juga berkurang, yang berkontribusi pada suhu yang lebih rendah.

Pengaruh Angin dan Cuaca

Angin dan cuaca juga memainkan peran penting dalam distribusi suhu di ketinggian yang berbeda. Angin dapat membawa massa udara dari berbagai ketinggian dan lokasi geografis, mencampurkan suhu dan kelembapan di atmosfer. Misalnya, angin katabatik (angin yang turun dari pegunungan) membawa udara dingin ke lembah-lembah, sementara angin anabatik (angin yang naik dari lembah ke pegunungan) membawa udara yang relatif lebih hangat ke ketinggian yang lebih tinggi.

  • Inversi Suhu

Meskipun suhu umumnya menurun dengan ketinggian, ada fenomena yang disebut inversi suhu di mana suhu meningkat dengan ketinggian. Ini biasanya terjadi pada malam hari atau di pagi hari ketika permukaan bumi mendingin lebih cepat daripada udara di atasnya. Inversi suhu dapat mengakibatkan kondisi cuaca yang unik, seperti kabut dan pembentukan awan rendah.

Pengaruh Geografis dan Musim

Lokasi geografis dan musim juga mempengaruhi suhu di berbagai ketinggian. Pegunungan di daerah tropis mungkin memiliki suhu yang lebih hangat di ketinggian tertentu dibandingkan dengan pegunungan di daerah kutub. Selain itu, perubahan musim dapat mengakibatkan fluktuasi suhu yang signifikan di berbagai ketinggian karena perubahan jumlah radiasi matahari yang diterima dan distribusi panas di atmosfer.

  • Efek Elevasi

Elevasi juga mempengaruhi suhu di berbagai ketinggian. Misalnya, Gunung Everest, yang terletak di pegunungan Himalaya, memiliki suhu yang jauh lebih dingin di puncaknya dibandingkan dengan pegunungan lain yang lebih rendah. Ketinggian ekstrem ini berarti udara sangat tipis dan suhu sangat rendah karena proses adiabatik yang lebih intens dan kurangnya pemanasan radiasi dari permukaan bumi.

Adaptasi Manusia dan Makhluk Hidup

Makhluk hidup, termasuk manusia, telah mengembangkan berbagai adaptasi untuk hidup di lingkungan dengan suhu yang bervariasi di berbagai ketinggian. Misalnya, manusia yang tinggal di daerah pegunungan tinggi cenderung memiliki kapasitas paru-paru yang lebih besar untuk mengambil lebih banyak oksigen dari udara yang tipis. Tumbuhan di pegunungan tinggi sering kali memiliki daun yang lebih kecil untuk mengurangi kehilangan air dan adaptasi lainnya untuk bertahan dalam kondisi dingin.

  • Flora dan Fauna

Flora dan fauna di ketinggian yang lebih tinggi sering kali berbeda dari yang ditemukan di dataran rendah. Tumbuhan mungkin memiliki morfologi khusus, seperti daun berlapis lilin atau bentuk kerdil, untuk mengatasi suhu dingin dan angin kencang. Hewan, seperti yak di Himalaya, memiliki bulu tebal dan adaptasi fisiologis lainnya untuk bertahan hidup di suhu ekstrem.

  • Penyesuaian Manusia

Manusia juga melakukan penyesuaian dalam hal arsitektur dan cara hidup untuk mengatasi suhu dingin di ketinggian. Rumah-rumah di daerah pegunungan sering kali dibangun dengan bahan yang memberikan insulasi yang baik dan menggunakan sistem pemanas yang efisien. Pakaian yang dikenakan juga disesuaikan untuk melindungi tubuh dari suhu dingin.

Penurunan suhu seiring dengan peningkatan ketinggian gunung adalah fenomena yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tekanan udara, proses adiabatik, radiasi matahari, angin, dan kondisi geografis. Memahami bagaimana faktor-faktor ini berinteraksi membantu kita memahami mengapa gunung menjadi lebih dingin semakin tinggi kita mendakinya.

Pengetahuan ini tidak hanya penting bagi para ilmuwan dan pendaki gunung, tetapi juga bagi semua orang yang tertarik pada dinamika alam dan bagaimana kita dapat beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda.

Nah, itulah tadi pembahasan terkait mengapa semakin dekat matahari, puncak gunung justru semakin dingin. By the way, berbagai buku, audio, video yang membahas pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bisa diperoleh di EDOO. Silakan diakses dan semoga membuat lebih semangat belajar. Salam Literasi untuk Edukasi!

by: Ma’ruf Munir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *