Skip to content

Kisah Elli Helkia: Guru Kreatif Ajarkan Siswa Matematika & Wirausaha Sambil Berkebun di Sekolah

Ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat siswa untuk belajar. Bahkan, menghabiskan pagi sampai siang di ruang kelas dapat menjadi membosankan jika pembelajaran berlangsung monoton,
seperti halnya mengerjakan soal-soal dari buku. Maka dari itu, seorang guru kreatif bernama Elli Helkia membawa inovasi barunya dalam pembelajaran dengan mengajarkan siwa matematika dan wirausaha sekaligus sambil belajar berkebun.

Elli Helkia merupakan guru sekaligus Kepala Sekolah SMPN 1 Sekolaq Darat, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Beliau paham bahwasannya seusai jam istirahat, siswa-siswa banyak yang mengantuk di kelas karena pembelajaran yang membosankan.

Merasa ada cara mengajar yang monoton dan kurang efektif dalam membuat siswa lebih paham terhadap pelajaran. Oleh karena itu, Ibu Guru Elli menghadirkan sebuah pembelajaran aktif yang melibatkan murid, melalui inovasi untuk memanfaatkan pekarangan sekolah menjadi kebun sayur sebagai sarana belajar siswa.

Kebun sekolah yang dibuat tersebut bukan hanya sebagai tempat belajar yang mengasyikkan, tetapi kebun sekolah ini juga dimanfaatkan untuk menjadikan siswa lebih aktif secara fisik. Selain itu, kebun sekolah tersebut juga disulap menjadi sarana wirausaha dengan cara mengajak siswa menanam berbagai macam sayur mayur yang bisa dipanen dan dijual bersama.

Sarana Pembelajaran Matematika, IPA, dan Wirausaha

Awalnya, siswa-siswa diberi pemahaman mengenai manfaat bertanam. Selanjutnya, Ibu Guru Elli mengajak para guru untuk menanam sayur mayur sekaligus menjadikannya sebagai materi pembelajaran. Misalnya, pada siang hari agar siswa tidak mengantuk, Ibu Guru Elli mengajak mereka untuk belajar bahasa Inggris tentang bagian-bagian tanaman di kebun.

Selain itu, pada saat pelajaran Matematika, guru mengajak siswa untuk menghitung jarak tanam tumbuhan dan luas lahan di kebun sekolah. Berkat konsep pembelajaran seperti itu, mereka akan memahami secara mendalam bagaimana cara terbaik menanam sayuran, yang pada akhirnya dapat dipraktikkan di rumah.

Tak berhenti di situ saja, saat pelajaran Ekonomi, para siswa juga diajak untuk menghitung pendapatan hasil dari panen sayur di kebun sekolah, membandingkan dengan biaya produksi dengan pendapatan, hingga membandingkan harga jual sayur dengan melakukan penelitian di pasar.

Sedangkan, pada pelajaran IPA, siswa diajarkan secara langsung bagaimana cara mengembangbiakkan tanaman dengan cara mencangkok. Tanaman yang dikembangbiakan dengan cara cangkok ini yaitu tanaman durian, alpukat, dan kelengkeng. Setelah tanaman tersebut dicangkok, lalu langsung dijual dengan harga tertentu. Hasil pendapatan dari penjualan tanaman cangkok tersebut dimanfaatkan untuk membeli peralatan sekolah seperti sepatu, tas, dan baju seragam sekolah.

Cara Unik Sedekah Untuk Bumi

Menurut Ibu Guru Elli Helkia yang disebut guru kreatif ini, awal mula memperoleh ide menghadirkan kebun sayur mayur di sekolah saat pandemic Covid-19 dulu. Pada waktu itu, banyak orang tua siswa yang mengeluh akan perilaku anaknya yang terus-terusan bermain gadget.

Ibu Guru Elli pun berupaya untuk mencari cara supaya anak-anak tidak fokus bermain gadget, sampai akhirnya ia dan guru-guru di SMPN 1 Sekolaq Darat sepakat mengelola pekarangan sekolah menjadi kebun sayur mayur. Namun, usaha beliau tidak berhenti di sana saja, lho EDOOers.

Ibu Guru Elli paham bahwasannya siswa SMP yang sudah beranjak remaja kebanyakan tidak tertarik dengan kegiatan berkebun. Oleh karena itu, beliau terlebih dahulu mengajak siswa memahami manfaat dari menanam sayur.

Salah satunya manfaat menanam sayur adalah bersedekah. Soalnya dengan menanam sayur atau tanaman, secara tidak langsung memberikan pasokan oksigen. Seseorang tidak perlu kaya untuk bersedekah dan jangan anggap menanam tanaman sayur sia-sia, karena hal tersebut adalah bagian dari sedekah kepada bumi tercinta.

Berkerja Sama Dengan Berbagai Pihak

Kebun sekolah yang diprakarsai oleh Elli Helkia tersebut sanggup mendukung perubahan kurikulum 2013 menuju Kurikulum Merdeka yang sedang terjadi di sekolah-sekolah. Selain itu, berkat hadirnya kebun sayur sekolah ini mampu pula menjadi salah satu solusi dalam menyiasati keuangan sekolah.

Demi terus mengembangkan kebun sekolah, Ibu Guru Elli berkerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sekolaq Darat guna memberikan pelatihan terkait cara bercocok tanam. Tak lupa juga bekerja sama dengan WWF (World Wide Fund for Nature) dalam pengelolaan limbah kebun sekolah menjadi sebuah pupuk organik.

Pihak WWF (World Wide Fund for Nature) dalam beberapa kesempatan juga memberikan workshop dengan topik Lingkungan Hidup kepada para siswa. Selain itu, WWF (World Wide Fund for Nature) juga memberikan fasilitas kepada SMPN 1 Sekolaq Darat untuk melakukan studi tur ke sekolah yang telah menerapkan Kurikulum Merdeka.

Menurut guru kreatif tersebut, pengelolaan kebun sayur mayur sekolah dilaksanakan berlandaskan Kurikulum Merdeka yang telah diadopsi sekolah melalui Program PINTAR, yaitu sebuah program penggerak besutan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) yang berkolaborasi dengan Tanoto Foundation.

 

Sungguh sebuah kisah inspiratif yang bisa dijadikan teladan untuk para guru serta siswa di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, mari sama-sama kita tingkatkan semangat untuk selalu berjuang dalam menciptakan inovasi-inovasi pendidikan yang berkualitas, khususnya kepada siswa-siswi yuk lebih ditingkatkan lagi semangat belajarnya ya. Kamu tahu kisah inspiratif guru lainnya? Share di kolom komentar ya.