Lontong Cap Go Meh: Sajian Akulturasi Budaya dalam Menyambut Imlek yang Penuh Makna

Bagi EDOOers yang merayakan tahun baru Imlek pastinya tidak asing dengan sajian kuliner satu ini. Yup, betul lontong Cap Go Meh merupakan sajian yang hadir ketika hari raya Imlek tiba dan dua pekan pasca hari raya Imlek, lebih tepatnya pada perayaan Cap Go Meh, termasuk pada tahun 2023 ini.

EDOOers pernah makan kuliner khas Tionghoa apa saja nih? Mungkin yang sudah sering kamu dengar atau coba adalah dim sum, bebek peking, chow mein, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, kalau lontong Cap Go Meh, EDOOers sudah pernah coba belum? Kalau belum, yuk, kenalan lebih jauh dulu dengan sajian kuliner yang satu ini!

Meskipun nama makanannya menggunakan kosa kata Hokkian, ternyata lontong Cap Go Meh itu merupakan masakan adaptasi peranakan atau bisa dibilang sajian akulturasi budaya antara Tionghoa Indonesia terhadap masakan Indonesia, yakni Jawa.

Sepiring sajian kuliner lezat ini berisi lontong yang dihidangkan bersama opor ayam, sayur lodeh, telur pindang, sambal goreng hati, acar, abon sapi, bubuk koya, sambal, kerupuk dan taburan bawang goreng, menjadi suatu santapan yang menggugah selera.

Biasanya sajian kuliner tersebut dihidangkan bersama-sama dalam menyambut tahun baru imlek sampai datangnya perayaan cap go meh, yang merupakan akhir dari rangkaian perayaan imlek yang dilakukan setiap tanggal 15 pada bulan pertama penanggalan Tionghoa.

Bagaimana Sejarah Terciptanya Lontong Cap Go Meh?

Konon pada zaman dahulu, zaman dimana era keemasan kerajaan Majapahit, datanglah para pendatang dari Tiongkok pertama kali ke Indonesia. Lantas mereka bermukim di pesisir bagian utara Jawa, seperti Pekalongan, Surabaya, Lasem dan Semarang, Kudus, Demak, Muara Jati atau Cirebon.

Zaman dahulu para imigran laki-laki Tiongkok mencoba mengenalkan segala jenis ilmu pengetahuan dari negara asal mereka kepada masyarakat Indonesia, contohnya seperti penanggalan Imlek, kebiasaan, budaya hingga sajian kulinernya. Lambat laun, para imigran Tiongkok China yang telah lama menetap di pulau Jawa akhirnya menikahi perempuan lokal Indonesia, hal tersebut melahirkan perpaduan budaya antara Tiongkok China dengan Jawa.

Para perempuan peranakan Jawa dan Tionghoa tersebut mengganti hidangan yuanxiao atau bola-bola tepung beras khas Cap Go Meh di Tiongkok dengan kuliner Jawa yang kaya rasa berupa lontong yang disertai tambahan opor ayam dan sambal goreng sebagai pelengkapnya.

Sejarah peradaban Tiongkok di atas tertulis rapi dalam Buku Yingya Shenglan karya dari Ma Huan yang terbit pada tahun 1416. Buku tersebut merupakan salah satu dari dua sumber penting daru Tiongkok yang banyak menceritakan tentang Majapahit. Ma Huan dalam bukunya mencatat secara terperinci dan teliti tentang budaya Jawa.

Ada juga versi sejarah lain yang menyatakan bahwa awalnya para etnis Tionghoa melihat muslim di pulau Jawa menyantap ketupat atau opor ayam saat Hari Raya Idul fitri tiba. Kemudian, para etnis Tionghoa tertarik untuk mencoba kuliner lokal tersebut, sehingga lambat laun mereka juga terpengaruh dengan selera masakan Indonesia.

Bahkan di daerah Lasem (Rembang) ada makanan lontong segitiga. Lontong segitiga tersebut tidak beda jauh dengan lontong Cap Go Meh, karena lahirnya sajian kuliner tersebut merupakan hasil akulturasi budaya dan akibat saling pinjam (resep). Hasil masyarakat Tionghoa yang meminjem resep masakan jawa, maka terjadi simbiosis mutualisme antara masyrakat Tionghoa dan masyarakat Jawa.

Makna Lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go Meh mempunyai arti tersendiri bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia. Lontong Cap Go Meh pun juga dianggap menjadi sajian kuliner spesial dan diakui pembawa keberuntungan.

Lontong Cap Go Meh terdiri dari berbagai kolaborasi makanan pelengkap ini ternyata memiliki filosofi tersendiri yang penuh makna. Masyarakat Tionghoa percaya kuliner yang terbentuk dari hasil akulturasi budaya ini melambangkan semangat pembauran antara kaum pendatang Tionghoa dengan penduduk lokal Jawa.

Nyatanya, tiap lauk dari lontong Cap Go Meh itu sendiri memiliki arti dan makna simbolis untuk masyarakat Tionghoa. Contohnya, lontong yang dibungkus daun pisang yang berbentuk padat dan berbentuk panjang dianggap sebagai simbol panjang umur.

Lontong mempunyai makna unik yang dianggap berlawanan dengan bubur encer. Masyarakat Tionghoa menganggap bahwa bubur encer menjadi hal yang tabu untuk disajikan ketika tahun baru Imlek, karena menurut mereka bubur encer dihidangkan untuk makanan orang sakit atau orang miskin, sehingga memakan bubur encer ketika Imlek dianggap membawa kesialan.

Selain itu, telur yang dimasak pindang dan opor yang berwarna kuning karena diracik dengan bumbu kunyit melambangkan sumber rezeki. Sementara itu, warna kuning keemasan pada kuah lontong tersebut dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kekayaan, karena warna emas atau kuning merupakan warna keberuntungan dalam Imlek.

Bukan cuma lauknya yang penuh makna, penyajian lontong Cap Go Meh ini juga memiliki makna mendalam lho, EDOOers! Saat penyajian lontong Cap Go Meh, piring yang menjadi wadah harus terisi penuh, menjulang tinggi, dan dikombinasikan berbagai lauk dan kuah yang melimpah.

Hal tersebut terinspirasi dari tradisi orang Jawa yang umumnya makanan dan minuman dalam porsi yang sangat banyak sebagai wujud rasa syukur. Nah, apabila masyarakat Tionghoa, menyantap lontong Cap Go Meh dengan piring terisi penuh ialah sebuah wujud berdoa dan mengharapkan rezeki yang melimpah.

Melalui menghidangkan dan memakan lontong Cap Go Meh pada tahun baru Imlek. Masyarakat Tionghoa percaya bahwa, mereka akan memperoleh keberuntungan, rezeki, kemakmuran dan kekayaan. 

Tidak hanya masyarakat Tionghoa saja yang menyantap lontong Cap Go Meh, muslim di beberapa daerah di pulau Jawa pun juga menyatapnya saat lebaran Idul Fitri tiba. Apakah EDOOers juga makan Lontong Cap Go Meh saat perayaan tahun baru Imlek tiba? Yuk share di kolom komentar ya!

Nah, keren banget, ya, dari sebuah sajian kuliner lontong Cap Go Meh yang merupakan hasil akulturasi budaya tersebut, ternyata ada banyak makna yang bisa dipelajari dari masyarakat Tionghoa dan budayanya. Ada banyak sekali adat dan budaya lainnya yang berhubungan dengan masyarakat Tionghoa yang bisa dipelajari.

Apakah kalian ingin mempelajari hal-hal unik tersebut? Ada platform pembelajaran seru yang bisa diakses untuk mempelajari hal-hal ini, lho! Betul sekali kita bisa belajar di EDOO. Semangat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *