Fenomena Viral Kidults di Kalangan Orang Dewasa

Belakangan ini netizen di dunia media sosial ramai membicarakan fenomena viral yang dianggap baru oleh kalangan orang-orang kekinian. Fenomena yang dimaksud ialah Kidults, EDOOers sendiri sudah tahu fenomena viral ini, belum? Fenomena viral Kidults ini berkaitan dengan orang dewasa yang masih memiliki kebiasan membeli mainan layaknya anak-anak.

Fenomena viral Kidults ini bisa diartikan sebagai menciptakan kembali kenangan masa kecil dengan mengambil bagian dalam kegiatan yang umumnya dianggap untuk anak-anak. Fenomena ini banyak menjangkiti orang-orang dewasa di Indonesia yang merasa bosan berdiam diri di rumah ketika pemberlakuan PPKM Covid-19. Oleh karena itu, mereka kembali membeli dan memainkan permainan masa kecil untuk mengatasi kebosanan. 

Pengertian Kidults

Kidults adalah singkatan dari Kid dan Adults. Kidults adalah fenomena mengenai seseorang yang sebenarnya secara umur sudah di bilang dewasa, tetapi masih senang menikmati kehidupan dan kebiasaan anak-anak atau remaja belasan tahun dengan cara membeli barang-barang yang ditujukan untuk anak-anak.

Singkatnya, orang-orang tersebut adalah sosok yang menolak menjadi dewasa karena tak mau kehilangan zona nyaman masa kanak-kanak yang tak menuntut banyak tanggung jawab besar. Istilah Kidults ini ditujukkan kepada orang-orang yang sudah beranjak dewasa bahkan sudah masuk kategori bapak-bapak (sebenarnya mengacu ke Gen X dan Xennials), tetapi memiliki hobi berburu mainan anak-anak.

Mainan anak yang di maksud antara lain, seperti action figure, diecast mobil maupun diecast Robot, Gunpla, Plamo, Lego, Playstation 5, X Box XS, Nintendo Switch. Selain itu mereka yang terjangkiti fenomena viral ini juga suka berburu versi mini dari konsole video game retro macam NES mini/Famicom mini, Mega Drive mini/Genesis mini, bahkan Neo Geo mini. Bahkan, sejumlah perusahaan membuat lini produk khusus yang ditujukan untuk Kidults, di mana orang dewasa ingin bersenang-senang serta ingin memuaskan inner child yang dimilikinya. 

Banyak yang mengatakan bahwa mereka yang terjangkiti fenomena viral Kidults ini, melakukanya demi balas dendam masa kecilnya. Sebetulnya mereka melakukannya, karena sewaktu masih kecil tidak bisa memiliki barang-barang tersebut sebab faktor ekonomi, sehingga begitu sudah dewasa, dan perekonomian telah mapan, mereka mulai membeli barang-barang tersebut sebagai pembalasan atau pelampiasan atas masa lalu mereka.

Sejarah Fenomena Viral Kidults

Ternyata fenomena viral Kidults ini sudah terjadi cukup lama adanya. Akan tetapi kini muncul kembali, namanya juga media sosial, ya EDOOers, jadi gampang viral. Sejatinya fenomena ini sudah terjadi di awal 1960-an. Salah satu tandanya ketika orang dewasa masih memilih tinggal bersama orang tuanya demi menolak kedewasaan.

Pada tahun 1970-an, terdapat sekitar 11% masyarakat Amerika Serikat yang berusia 26 tahun yang masih tinggal dengan orang tua. Namun angka ini terus melonjak, sampai-sampai pada tahun 2005 silam kenaikannya mencapai 20%.

Tahun 1980-an julukan Kidults ini populer di negeri Paman Sam dan pertama kali mulai diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Jim Ward-Nichols yang berasal dari Steven Institute of Technology di New Jersey, AS medio, Amerika Serikat.

Akhirnya pada akhir tahun 90-an fenomena Kidults ini berkembang di negara Jepang. Pada masa-masa akhir 90an tersebut negara Jepang mulai mengalami era Lost Decade Generation yang di mana Jepang saat itu mengalami resesi ekonomi dan mengalami keterlambatan angkatan kerja hingga 10 tahun lamanya.

Selama itu angka pertumbuhan penduduk jauh sangat menurun, dan imbas dari penurunan jumlah penduduk tersebut adalah turunnya jumlah anak-anak dan penjualan produk untuk anak-anak turun juga, terutama untuk mainan.

Negara Jepang sebagai produsen pun akhirnya memutar otak untuk mulai menggeser market mereka dengan mentargetkan para orang dewasa dengan menjual nostalgia atau memperbanyak fan service dalam setiap tayangan mereka, dengan harapan tayangan mereka bisa membalikkan modal dalam bentuk penjualan merchandise.

Masing-masing di setiap belahan negara memiliki istilah yang berbeda untuk fenomena viral Kidults ini. Seperti misalnya Kippers di Inggris, Mammones di Perancis, Nesthockers di Jerman, atau Freeeters di Jepang. 

Penyebab Fenomena Viral Kidults

Meluasnya fenomena viral Kidults bisa disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti misalnya kondisi keuangan dan ekonomi orangtua yang telah mapan. Selain itu juga lapangan kerja yang kompetitif bagi laki-laki maupun perempuan di usia muda, serta gaya hidup mewah juga menjadi penyebab fenomena ini. 

Dilansir dari Huffington Post, ada banyak faktor yang menyebabkan orang dewasa membeli dan memainkan permainan anak-anak. Profesor Psikiater dan Psikologi dari University of Pittsburgh, Beatriz Luna menjelaskan bahwa ia percaya jika orang berusia 20-an dengan aktivitas berlebihan tidak akan mencapai kedewasaan sampai usia menginjak 25 tahun.

Selain itu, keinginan orang dewasa untuk memiliki barang yang identik dengan anak-anak juga dapat dipicu karena pemenuhan keinginan yang belum terwujud di masa kecilnya.

Dampak Fenomena Viral Kidults

Menurut ilmu piskologi, rasa ingin memiliki mainan anak-anak yang menjangkiti para orang dewasa dapat menjadi bentuk penolakan terhadap usia masa penuaan pada mental mereka. Apabila fenomena ini muncul pada seseorang, ada kemungkinannya adalah bisa mempengaruhi sikap menjadi lebih kekanak-kanakan hingga kurang bertanggung jawab.

Bisa menjadi masalah serius jika fenomena ini terjadi setelah menikah. Orang tersebut akan kurang mampu bertanggungjawab sebagai figure seorang ayah atau seorang ibu. Pasalnya, mereka masih lebih memikirkan pemenuhan kebutuhan untuk diri sendiri, ketimbang kebutuhan rumah tangganya. 

Fenomena viral Kidults ini juga akan membuat para orang dewasa hanya fokus kepada pemenuhan psikologi terhadap ego, tanpa mempertimbangkan nilai-nilai lainnya. Hal tersebut karena egosentris mereka masih tinggi.

Selain itu, fenomena viral Kidults bisa menimbulkan ketergantungan dengan benda masa kecil dan memicu gangguan psikologis pula. Gangguan psikologis tersebut bisa muncul berupa rasa sakit, hingga tak percaya diri ketika mainan atau benda tersebut tidak ada atau tidak dimilikinya.

Demikian pembahasan fenomena viral Kidults, termasuk pengertian, sejarah, penyebab dan dampak dari Kidults. Semoga membantu ya EDOOers. Terlepas dari stigma masyarakat yang menganggap bahwa fenomena viral Kidults begitu menggelikan, sebenarnya nggak ada salahnya kok, kalau orang dewasa ingin punya mainan.

Toh, siapa tahu memang dia adalah seorang kolektor, penjual, youtuber reviewer mainan atau ada mainan idamannya yang baru terbeli ketika dirinya dewasa dan sudah bekerja. Kalau menurut EDOOers sendiri seperti apa? Share di kolom komentar ya!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *