Kisah Maftuhah Mustiqowati: Guru Madrasah Penyelamat Lingkungan dari Jombang

Masih banyak dijumpai adanya sikap acuh tak acuh, ketika menemui imbauan untuk mencintai lingkungan sekitar. Entah itu penghijauan bumi, ataupun upaya-upaya gerakan penanggulangan sampah. Padahal gerakan tersebut, jika ditinjau lebih dalam bukan hanya sekadar gerakan cinta terhadap lingkungan semata, melainkan perwujudan keimanan seseorang kepada Tuhannya. Hal tersebut yang menginspirasi Maftuhah Mustiqowati seorang guru madrasah dari Jombang.

Nyai Hj. Maftuhah Mustiqowati, S.Ag, M.Pd atau biasa dipanggil Ibu Nyai Ika merupakan seorang guru madrasah yang sekaligus juga sebagai Kepala MTs Al Hikam Jatirejo, Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Beliau selalu rajin untuk melakukan kampanye peduli lingkungan di madrasah, pesantren, maupun masyarakat sekitar sehingga patut disebut sebagai penyelamat lingkungan.

Rasa kepedulian yang tinggi dari Ibu Nyai Ika tersebut bermula dari membaca sebuah buku berjudul Merintis Fikih Lingkungan Hidup yang memandang pentingnya menjaga lingkungan. Menurut penulis buku tersebut yaitu Kiai Ali Yafie (Rais ‘Aam PBNU 1991-1992) menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kolektif semua pihak. Selain itu menjaga lingkungan juga termasuk salah satu dari enam komponen kehidupan dasar manusia (al-dlaruriyat al-sitt atau al-kulliyat al-sitt) yaitu perlindungan lingkungan hidup (hifzhu al-bi’ah).

Berawal dari banyaknya siswa-siswinya yang masih mempunyai kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan, sehingga menjadi berserakan di lingkungan madrasah. Lantas dari kejadian tersebut Ibu Maftuhah berupaya untuk mengubah kebiasaan buruk anak didiknya untuk menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan.

Beliau mengatakan, generasi muda saat ini tidak hanya cukup diimbau untuk melakukan sesuatu, namun akan lebih baik jika dengan diberikan respon yang tanggap dengan hal menarik bagi mereka. Akhirnya, perempuan yang akrab disapa Bu Nyai Ika ini, pada tahun 2015, mengawali untuk mengubah madrasah yang di bawah kepemimpinannya bertransformasi menjadi madrasah Adiwiyata. Madrasah Adiwiyata yakni madrasah yang peduli terhadap lingkungan yang sehat, bersih, nan indah.

Pada prosesnya menuju madrasah Adiwiyata, ada beberapa aspek yang harus terpenuhi kata beliau seperti aspek guru, mata pelajaran, ekstrakulikuler, hingga visi madrasah itu sendiri. Kiat-kiat dalam menuju madrasah adiwiyata itu semua agar siswa-siswi konsisten terhadap kepedulian lingkungan. Alhasil di visi madrasah juga tercantum poin berbudaya lingkungan, terang perempuan yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam Putri itu.

Melakukan kampanye untuk mencintai lingkungan kepada siswa-siswi, tidaklah semudah seperti membalikkan telapak tangan, butuh proses yang terus berkelanjutan untuk menjadikan hal tersebut menjadi watak dan karakter siswa yang mengakar.

Kiat dalam mewujudkan madrasah Adiwiyata itu tidak ada titiknya, koma terus, artinya berkelanjutan untuk masa depan anak cucu kita kelak. Selain dibekali ilmu pengelolaan sampah dan kecintaan terhadap lingkungan sekitar. Para siswa-siswi juga diajarkan perihal fikih lingkungan, dan hukum terkait merusak alam yang dilandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits.

Pelopor Gerakan-Gerakan Peduli Lingkungan

Ibu Maftuhah Mustiqowati sang guru madrasah penyelamat lingkungan tersebut, mempunyai beberapa gerakan-gerakan masif dalam mempelopori dan mewujudkan penyelamatan lingkungan, sebagai berikut:

  1. Gerakan Ecobrick

Gerakan Ecobrick yaitu gerakan edukasi penanggulangan sampah plastik. Gerakan Ecobrick tersebut merupakan salah satu teknik pengelolaan sampah plastik dengan memasukkan berbagai sampah plastik ke dalam botol-botol plastik bekas, hingga penuh kemudian dipadatkan sampai menjadi keras.

Setelah mengeras, barulah botol di kreasikan menjadi beragam karya seperti meja, vigura, kursi, pot tanaman, rak buku/kitab, bata ramah lingkungan dan kerajinan lainnya. Gerakan Ecobrick ini telah diikuti oleh sebanyak 36 madrasah dan sekolah se-Kabupaten Jombang. Gerakan ini dilakukan bertujuan untuk mengurangi pencemaran sampah plastik ke laut.

2. Pembuatan Kompos

Gerakan pembuatan kompos ini menjadi sebuah edukasi penanaman dan memanen pupuk kompos yang mempunyai tujuan mengajarkan dan menanggulangi sampah organik di sekitar lingkungan madrasah. Pada gerakan ini para siswa-siswi cuma diajari membuat kompos dari sampah organic saja, tapi juga membuat pupuk organik cair untuk tanaman agar tidak merusak kualitas tanah.

3. Penanaman Pohon Lintas Agama

Gerakan penanaman pohon sebanyak 3.200 bibit ini, ditanam dan dilaksanakan secara serentak di di lapangan Klenteng Gudo Jombang. Kegiatan ini diikuti 125 siswa dari MTs- MA Al Hikam, SD-SMP Kristen Petra, MI Sabilunnajah Gudo, MTs
H. Agus Salim Gudo, TK Hong San Kiong Gudo dan Joglo Sinau. Selain itu juga diikuti 20 tokoh lintas agama dan dari Komunitas Sanggar Hijau Indonesia dan Dinas Perhutani dan Dinas Lingkungan hidup (DLH) Kabupaten Jombang.  

Gerakan penanaman pohon tersebut dalam rangka memperingati Hari Toleransi dan Haul Gus Dur 2022. Tujuan dari Gerakan penanaman pohon ini untuk merawat kebhinekaan melalui pelestarian lingkungan. Bahwa Indonesia adalah rumah besar milik bersama yang harus dijaga untuk mewujudkan Indonesia lestari.

4. Pemasangan Biopori

Pemasangan Biopori atau resapan air hujan ini merupakan gerakan agar dalam menanggulangi bencana banjir. Biopori tersebut dipasang di halaman Kementerian Agama Kabupaten Jombang, halaman kantor DPRD Jombang, dan di Kawasan makam Gus Dur.

5. Sedekah Minyak Jelantah

Minyak jelantah (minyak sisa penggorengan) yang kerap kali dibuang, diinisiasi menjadi sabun yang berguna lagi. Setiap hari rabu di madrasah Ibu Nyai Ika, siswa dan masyarakat sekitar madrasah diminta untuk membawa minyak jelantah ke MTs Al Hikam untuk diajari dan diubah menjadi sabu. Kegiatan tersebut secara resmi diluncurkan oleh Kabid Pendma Kemenag Jatim yakni H Syansuri.

6. Sedekah Gelas & Plastik

Pihak madrasah yang dipimpin Ibu Nyai Ika ini memberikan keranjang kepada 113 madrasah dan sekolah se-Kabupaten Jombang dan Lamongan. Keranjang tersebut digunakan untuk menampung sampah gelas atau plastik. Launching gerakan tersebut di selenggarakan pada 13 Oktober 2021, yang dihadiri oleh pengasuh pondok, Kepala Kemenag Kabupaten Jombang dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jombang. Akhirnya dengan gerakan ini sampah yang tadinya polusi menjadi solusi.

7. Resik Kali (Bersih Sungai)

Gerakan resik kali ini menjadi kegiatan bersifat kontinuitas yang dilakukan untuk mengurangi sampah di sungai, dan mengubah sungai menjadi fungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, gerakan resik kali ini untuk mengurangi sampah residu seperti pembalut sekali pakai misalnya. Ibu Maftuhah Mustiqowati berinovasi membuat pembalut cuci ulang yang sudah dipakai oleh para siswi dan khalayak umum.

Konsistensi Ibu Maftuhah pada setiap gerakan yang diinisiasinya serta kepeduliannya dalam penyelamatan lingkungan hidup membawa madrasah yang dipimpinnya yakni MTs Al Hikam menyabet beberapa penghargaan.

Penghargaan yang diperoleh oleh madrasah beliau di antaranya Penghargaan Adiwiyata tingkat Kabupaten Jombang pada tahun 2016, Penghargaan Adiwiyata tingkat Provinsi Jawa Timur pada tahun 2019, Penghargaan Adiwiyata tingkat Nasional di tahun 2021, dan Madrasah Award kategori madrasah mandiri melalui pelestarian lingkungan di tahun 2021.  

Menurut Ibu Maftuhah Mustiqowati sang guru madrasah penyelamat lingkungan, madrasah harus menjadi garda paling depan dalam mempelopori setiap gerakan dalam melestarikan lingkungan. Semua gerakan tersebut adalah bukti cinta dari madrasah untuk kehidupan dan untuk Indonesia tercinta. Itulah kisah inspiratif kali ini. Salam Literasi untuk Edukasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *