Mengulik 4 Macam Skala Suhu dalam Pelajaran Fisika

Halo sobat EDOOers! Kalian pastinya udah nggak asing lagi nih denger yang namanya suhu. Apalagi sekarang setiap mau pergi ke tempat umum, pasti harus cek suhu tubuh terlebih dahulu. Biasanya dari alat yang ditembakkan ke jidat ataupun lengan kalian akan langsung mengeluarkan angka, tapi EDOOers sendiri paham nggak sih apa arti dari angka tersebut? Nah, pada pembahasan kali ini kita akan belajar pengertian suhu beserta 4 macam skala suhu, yuk cuss dah!!.

Mengenal Konsep Suhu

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), suhu diartikan sebagai suatu ukuran kuantitatif dari temperatur, panas atau dingin, dan diukur menggunakan thermometer. Menurut, Encyclopedia Britannica dijelaskan bahwa suhu adalah ukuran panas atau dingin yang dinyatakan dengan skala sembarang. Hal tersebut menunjukkan bahwa suhu panas yang memiliki energi tinggi akan mengalir ke suhu yang lebih rendah atau dingin.

Maka dari itu, suatu suhu bisa dinyatakan pula menjadi ukuran kualitatif sebuah benda. Artinya, semakin tinggi suhu suatu benda, maka semakin panas pula benda tersebut. Kok bisa begitu ya? Well, sebenarnya, suhu itu berhubungan erat dengan energi kinektik. Jadi, semakin besar energi kinetik suatu benda, suhunya juga akan semakin tinggi.

Kok energi kinetik sih? Bukannya energi kinetik itu dimiliki oleh benda bergerak? Tap ikan ketika benda menjadi panas, benda tersebut nggak gerak kemana-mana dan cenderung diam. Nah, ini yang harus diluruskan, walaupun bendanya diam, tetapi sebenernya molekul penyusun dalam benda tersebut terus begerak, bisa translasi, rotasi, bahkan bisa vibrasi.

Aslinya tuh yang kamu rasakan sebagai panas atau dingin, itu sebenarnya cuma sensor di kulit yang sedang menerima energi dari partikel-partikel benda yang sedang disentuh. Entah yang sedang disentuh itu merasa panas, atau benda yang sedang disentuh merasa dingin.

Jadi, rasa panas dan dingin bagi setiap orang adalah relatif. Berarti panas atau dingin itu subjektif pula tergantung apa yang mengukur. Tapi kan kita ilmuwan ya kan EDOOers? Jadi harus objektif, lantas kita tidak menggunakan rasa panas atau dingin lagi, melainkan kita mengukur suhu. Maka dari itu kita selanjutnya akan mempelajari tentang 4 macam skala suhu.

4 Skala Pengukuran Suhu

Perlu EDOOers ketahui bahwa ada 4 macam skala suhu, di antaranya ada skala Celcius, Fahrenheit, Reamur, dan Kelvin. Nah, masing-masing skala suhu tersebut mempunyai titik beku dan titik didih sendiri-sendiri yang berbeda, lho! Hmm… Kok bisa gitu sih? Yuk, cari tahu dan berkenalan dengan 4 macam skala suhu berikut ini!

  1. Celcius (C)

Indonesia sendiri skala pengukuran suhu yang paling umum dipergunakan adalah Celcius (°C). Skala suhu Celcius memiliki satuan derajat C. Ketika melakukan perbandingan antara dingin dan panas, skala suhu Celcius air membeku pada suhu 0 derajat celcius. Sementara pada air mendidih adalah 100 derajat Celcius.

Skala suhu Celcius ditemukan oleh Anders Celsius yang merupakan seorang astronom Swedia pada tahun 1742. Awalnya, Pak Celsius mengusulkan titik beku air 100° dan titik didih air 0° loh!. Namun, karena bujukan dari Carolus Linnaeus pada tahun 1747. Maka hasilnya jadi seperti saat ini deh, bahwa titik beku air di angka 0° dan titik didih air di angka 100°.

2. Fahrenheit (F)

Skala suhu yang selanjutnya adalah Fahrenheit atau dikenal dengan huruf F saja. Menurut Lumen Learning, skala suhu Fahrenheit ini merupakan skala pengukur suhu yang paling banyak dipakai di negara Amerika Serikat. Adapun di skala Fahrenheit, air mendidih ada pada suhu 212 derajat F, sementara air membeku pada skala 32 derajat Fahrenheit.

Skala suhu Fahrenheit ini ditemukan oleh fisikawan Jerman bernama Daniel Gabriel Fahrenheit. Beliau juga berhasil menemukan termometer alkohol pada tahun 1709 dan termometer air raksa di 1714. Penelitian Pak Fahrenheit didapatkan suhu standar tubuh manusia sebesar 96° dengan media ketiak istrinya sebagai percobaan (walaupun saat ini sudah diteliti ulang agar lebih akurat menjadi sebesar 98,6°).

3. Reamur (R)

Beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya di tahun 1731, seorang ilmuwan asal Perancis René Antoine Ferchault de Réaumur mengusulkan skala suhu yang lain. Pada awalnya, Pak Reaumur membuat termometer dengan alkohol (walaupun sekarang sudah diganti dengan air raksa) dan membuat sebuah ketetapan titik beku air 0o R dan titik didih sebesar 80o R.

Maka setelah hal tersebut, atas usulannya tercipta skala suhu baru yang dinamakan skala Réaumur. Satuan suhu Reamur dilambangkan dengan huruf “R”. Skala Réaumur ini tadinya sangat ngetren dan hits banget dipakai sama orang-orang di benua Eropa. Apalagi pengguna terbanyak yaitu negara Prancis dan Jerman. Yah, walaupun sekarang udah jarang banget sih. Paling yang make hanya pada industri permen dan keju aja.

4. Kelvin (K)

Terakhir, ada skala suhu Kelvin. Skala ini adalah skala suhu satu-satunya yang diketahui tidak memiliki derajat. Satuan pada skala suhu ini adalah Kelvin (K). Sebagai perbandingan, dalam skala Kelvin air mendidih pada suhu 373,15 Kelvin, dan air membeku pada suhu 273,15 Kelvin.

Skala suhu ini ditemukan oleh orang Skotlandia bernama Lord William Kelvin. Berbeda dengan skala suhu lain, Kelvin menggunakan konsep nol mutlak sebagai batas bawahnya. Skala suhu Kelvin ini masuk ke dalam Standar Internasional (SI) yang biasa dipakai untuk pengukuran penelitian ilmiah. Oleh sebab itu, secara teoritis, nggak ada yang lebih rendah dari suhu nol mutlak dan kamu nggak akan nemuin suhu minus (-) gitu. Pada skala suhu Kelvin juga tidak perlu menulis derajat (o), jadi langsung aja 273 aja.

Sebetulnya, di luar keempat skala suhu di atas, masih ada skala pengukuran suhu yang lain seperti Rankine, Newton, dan Romer. Akan tetapi, bisa dibilang ketiga skala suhu tersebut kurang populer dan jarang banget ada yang memakainya. Makanya yang terkenal 4 macam skala suhu ini aja.

Jadi, seperti itulah sekilas pembahasan tentang 4 macam skala suhu yang ada dalam pelajaran fisika. Berbagai buku, audio, video yang membahas pelajaran Fisika bisa didapatkan di EDOO. Silakan diakses dan semoga membuat lebih semangat belajar. Salam Literasi untuk Edukasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *