Kisah Rh. Koesnan: Tokoh Pencetus Peringatan Hari Guru Nasional

Guru adalah sosok yang pantang menyerah dalam memberikan ilmu bagi siswa-siswinya. Dedikasinya yang tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa menjadikan guru sebagai sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Peringatan Hari Guru Nasional menjadi momen sakral untuk merayakan perjuangan para guru di Indonesia yang jatuh setiap tanggal 25 November. Setiap tahunnya, EDOOers pasti ikut atau mendengar tentang momen bersejarah guru ini. Namun, tahukah kamu siapa sih tokoh pencetus peringatan Hari Guru Nasional di Indonesia sebenarnya? Yuk simak ulasannya dibawah ini.

Kapasitas guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh sangatlah besar dan menentukan. Sejak era kolonialisme, guru senantiasa menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat nasionalisme kepada para siswa dan masyarakat.

Guru menjadi salah satu faktor utama yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Guru lah yang meletakkan dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi para siswa untuk masa depan bangsa.

Pada tahun ini, tema yang diambil dalam Peringatan Hari Guru Nasional 2022 adalah “Serentak Berinovasi, Wujudkan Merdeka Belajar”. Tapi dalam proses lahirnya peringatan Hari Guru Nasional, terdapat tokoh hebat yang memiliki andil. Tokoh yang turut andil dan berperan tersebut ialah Rh. Koesnan.

Siapakah Rh. Koesnan? Rh. Koesnan merupakan orang yang pernah menjabat menjadi ketua kongres guru II pada tanggal 21-23 November 1946 di Surakarta, Jawa Tengah. Sebelumnya beliau juga pernah menjadi wakil ketua kongres I mendampingi Amin Singgih.

Kongres guru yang dipimpin oleh Rh.Koesnan pada waktu itu, menghasilkan tiga tuntutan yang diajukan kepada pemerintah antara lain yaitu pertama sistem pendidikan agar dilaksanakan atas dasar kepentingan nasional, kedua gaji guru supaya tidak dihentikan, dan ketiga diadakannya Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Undang-undang Pokok Perburuhan.

Setelah hasil kongres guru tersebut diajukan kepada pemerintah. Akhirnya tuntutan ini diperhatikan juga oleh pemerintah. Rh. Koesnan pun langsung ditunjuk menjadi anggota Panitia Gaji Pemerintah pada Kementerian Keuangan. Selanjutnya, Rh. Koesnan bersama Zahri diangkat menjadi anggota organisasi KNIP Pleno. Terakhir, beliau ditunjuk sebagai menjadi Menteri Sosial dan Perburuhan pada waktu kabinet Hatta.

Sebelum lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), perkumpulan guru tersebut bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Tahun 1912 Volksoonderwijzersbond atau Persatuan Guru Hindia Belanda (PGBH) lahir, dengan beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah dan pemilik sekolah. Seiring berjalannya waktu, keanggotaan Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) semakin berkembang dan makin nasionalis. 

Akhirnya pada tahun 1932 PGHB berubah nama menjadi persatuan Guru Indonesia (PGI). Sontak perubahan nama tersebut membuat kaget pemerintah Hindia Belanda, karena pasalnya terdapat nama Indonesia di dalamnya. Bagi pemerintah Hindia Belanda, hal tersebut dianggap sebagai ancaman untuk pemerintahan mereka. Sebab pemakaian kata Indonesia yang dibubuhkan dalam nama organisasi tersebut, menjadi cermin munculnya semangat kebangsaan, menentang pemerintah Hindia Belanda, dan menginginkan kemerdekaan.

Organisasi PGI adalah kumpulan dari beberapa organisasi profesi guru lain, di antaranya Persatuan Guru Ambachtshool (PGAS), Persatuan Guru Bantu (PGB), Volksnoderwijzers Bond (VOB), Oud Kweek Scholieren Bond (PNS), Hogere Kweek Schoileren Bond (HKSB), Persatuan School Opziener (PSO) dan Perserikatan Normal School (PNS).

Melihat adanya ancaman dari organisasi PGI, pemerintah Hindia-Belanda membuat kebijakan perihal pemindahan urusan pengajaran dari pusat ke daerah-daerah. Dampak adanya kebijakan tersebut membuat kemrosotan dalam pendidikan mengingat kurangnya keuangan di daerah. Sehingga membuat para guru menentang usaha penyerahan urusan pengajaran kepada pemerintah daerah, sebelum adanya perbaikan perhubungan keuangan di daerah.

Sementara pada saat masa pendudukan Jepang di Indonsia, PGI tidak bisa berkutik, bahkan melakukan aktivitas keorganisasian pun dilarang, karena Jepang telah menutup sekolah-sekolah yang ada. Akan tetapi setelah beku selama pendudukan jepang, organisasi itu muncul kembali dengan semangat dan marwah baru.

Terlebih setelah dikumandangkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia, para guru bergerak cepat untuk menyelenggarakan kongres guru pertama. Kongres guru pertama ini dilakukan di Solo pada 24-25 November 1945, dengan diketuai oleh Amin Singgih serta didampingi oleh Rh.Koesnan sebagai wakil ketua kongres. Melalui kongres guru pertama inilah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan.

Salah satu hasil Kongres Guru pertama adalah untuk menghapuskan perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, suku, ras, dan lainnya untuk bergabung menjadi satu kesatuan Indonesia. Jiwa pengabdian, tekad perjuangan, dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang ditanamkan secara historis terus dipupuk untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tatkala corak dan dinamika politik yang sangat dinamis, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tetap setia dalam perjuangan serta pengabdiannya sebagai organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan, yang bersifat independen dan unitaristik. Untuk itulah pada 25 November 1945, pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan hari lahir PGRI sebagai peringatan Hari Guru Nasional setiap tahun.

Sosok Rh.Koesnan adalah salah satu tokoh yang mengajak beberapa orang untuk membentuk persatuan guru guna menyatukan semua guru dengan tidak melihat latar belakang agama, pendidikan & asal usul. Nah seperti itulah peranan dan sumbangsih penting Rh. Koesnan dalam mencetuskan terjadinya peringatan Hari Guru Nasional yang bisa kita peringati sampai sekarang ini. Selamat Hari Guru Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *