No Backpack Day, No Hard Day

Halo EDOOers, sudah pernah lihat tren No Backpack Day yang sering seliweran di sosial media? akhir-akhir ini tengah viral tren ‘No Backpack Day’ di sosial media. Sehingga membuat sejumlah sekolah mulai mengikuti tren tersebut dengan menghimbau para siswa-siswinya untuk berangkat sekolah tanpa menggunakan tas mereka dan menggantinya dengan benda lain selama satu hari saja.

Salah satu sekolah di Indonesia yang sudah menerapkan No Backpack Day yaitu  SMPN 1 Kuningan dan SMAN 1 Puri Mojokerto. Pada video yang beredar di sosial media para siswa dilarang membawa perlengkapan sekolah menggunakan tas ransel milik mereka.

Pengertian No Backpack Day

Lantas apa itu No Backpack Day? Yuk EDOOers simak penjelasan berikut ini. No Backpack Day adalah gerakan yang mengajak siswa-siswi untuk tidak menggunakan tas ransel untuk berangkat ke sekolah dalam sehari. Sebagai gantinya, siswa-siswi diharuskan untuk membawa buku pelajaran dan perlengkapan pembelajaran lainnya dengan kantung plastik.

Hampir sama makna dengan penggunaan seragam bagi siswa sekolah di Indonesia, tujuan dari tren No Backpack Day yakni untuk mengkampanyekan mengenai kesetaraan sosial, yakni bahwa tidak semua siswa bisa membeli tas ransel sekolah, sehingga dengan adanya tren tersebut dapat menciptakan rasa empati dan simpati di kalangan para siswa serta memberikan semangat kepada siswa-siswa yang berasal dari keluarga dari kalangan menengah ke bawah.

Tren No Backpack Day ini dilakukan juga untuk meningkatkan kesadaran para siswa-siswi bahwa masih banyak anak-anak di seluruh dunia dalam menempuh pendidikanya, harus berjalan bermil-mil jauhnya tanpa tas ransel dipundak mereka karena  ketidak mampuan untuk  membelinya. Namun di segi yang lain, sejumlah sekolah juga menjadikan tren No Backpack Day tersebut menjadi metode icebreaking agar para siswa-siswi tidak jenuh dan lebih fun saat proses pembelajar.

Antusiasme yang ditunjukkan atas adanya tren No Backpack Day ternyata sangat luar biasa. Contohnya seperti di SMPN 1 Kuningan yang para siswa-siswinya meramaikan tren ini dengan respon yang sangat bagus dan antusias. Bahkan ada beberapa siswa membawa barang unik yaitu wajan penggorengan hingga kain pembungkus bantal.

Tidak hanya itu di sekolah SMAN 1 Puri Mojokerto juga mengikuti tren tersebut dengan cara cukup unik. Terlihat para siswa-siswi di SMAN 1 Puri Mojokerto membawa berbagai barang pengganti tas ransel seperti kurungan burung, keranjang, mesin oven, kotak amal, kaleng biskuit, bahkan hingga rak pakaian.

Bukan hanya sekolah di negara kita Indonesia saja, beragam sekolah di negara lain juga ikut menyemarakan tren berangkat sekolah tanpa tas ransel ini. Bahkan, hashtag #nobackpackday telah meraih jumlah konten tayangan sebesar 195 juta kali dari seluruh pengguna di TikTok. Meskipun menjadi wadah  kreativitas dan hiburan bagi para siswa, namun tren No Backpack Day mempunyai tujuan mulia dan sejarah tersendiri loh EDOOers.

Asal Usul No Backpack Day

Tapi, tahukah EDOOers, cerita di balik tercetusnya ide No Backpack Day tersebut?
Asal-usul tercetusnya ide berangkat sekolah tanpa tas ransel ini ternyata bukan berasal dari Indonesia. Kendati demikan, tren berangkat sekolah tanpa tas ransel (No Backpack Day) sendiri rupanya diinisiasi oleh seorang siswa SD Blythe Elementary School, California, Amerika Serikat. Pada mulanya tren ini dipelopori oleh seorang anak bernama Mongai Fankam, dan pertama kali dicetuskan pada 12 Februari 2012.

Suatu hari Mongai Fankam yang masih menginjak umur 3 tahun, diajak ibunya ke dalam misi perjalanan menuju ke Kamerun, Afrika. Ketika dia berada di negara Kamerun, Mongai melihat begitu banyak pelajar sekolah yang berjalan kaki menempuh perjalanan yang sangat jauh sampai bermil-mil dan membawa berbagai perlengkapan sekolah mereka dengan hanya tangan kosong atau kantung plastik karena mereka tidak mampu membeli tas ransel. 

Seiring bertambahnya usia dari Mongai, bertambah juga tingkat kesadarannya. Dengan melihat kondisi yang dialami pelajar di Kamerun, Afrika. Maka Mongai memutuskan untuk mengambil tindakan sebagai wujud keprihatian dengan berbagi cerita tersebut kepada gurunya di sekolah. Tindakan yang dia lakukan dengan mengajak teman-temannya di sekolah untuk menyumbangkan tas dan perlengkapan belajar mereka untuk anak-anak kurang mampu di Kamerun. Syarat yang di ajukan oleh Mongai untuk kegiatan sosial tersebut yaitu teman-temannya ketika datang ke sekolah harus tanpa menggunakan tas ransel selama sehari. Bermula dari kegiatan sosial ini terciptalah tren No Backpack Day.

Dilansir dari WBTV salah satu stasiun televisi di North Carolina, Amerika Serikat, pada  Februari 2012, Mongai Fankam sudah berhasil mengajak 650 siswa di sekolahnya untuk ikut serta dalam gerakan No Backpack Day. Selain itu, Fankam mengumpulkan donasi dari sekolahnya berupa 3.700 perlengkapan sekolah lalu disalurkan melalui organisasi sosial A Place for Hope.

Sampai bulan Mei 2012, inisiasi dari Mongai Fankam berhasil diterima oleh 8 sekolah di Amerika Serikat. Kedelapan sekolah ini juga turut andil menyumbangkan lebih dari 500 tas ransel lengkap dengan perlengkapan sekolah lainnya.

Ketika Mongai Fankam mulai menginjak umur 19 tahun, ia semakin tergugah untuk menyebarluaskan tren positif tersebut ke seluruh penjuru dunia. Di mana masih sangat banyak fenomena-fenomena kesenjangan ekonomi seperti yang ia saksikan selama berada di Kamerun, Afrika.

Jadi, sekolah kamu ikutan tren No Backpack Day juga nggak nih, EDOOers? Yuk share kesini!!.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *