Kisah Ahmad Haris: Guru Penakluk Lautan dari NTT

Berprofesi menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah. Guru menjadi wakil orang tua bagi anak-anak selama berada di sekolah dan demi generasi penerus bangsa, mereka harus bekerja keras untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, salah satunya dirasakan oleh Ahmad Haris seorang guru penakluk lautan dari NTT.

Guru merupakan tokoh utama yang berperan dalam perkembangan pendidikan di dunia. Tanpa sosok seorang guru, maka hal-hal yang menunjangnya seperti bangunan sekolah yang megah, kurikulum yang sempurna, inovasi pendidikan yang memukau tidak akan ada artinya sama sekali.

Pada 25 November 2018 sempat viral sebuah video yang beredar di media sosial tentang guru yang berenang menyeberangi lautan sembari memegang tas. Guru hebat dalam video tersebut tidak lain adalah Ahmad Haris. Beliau merupakan guru di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pulau Balir, Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Setiap hari pria berumur 40 tahun itu harus keluar rumah pada pagi-pagi buta untuk menempuh perjalanan 30 kilometer, diawali dengan menaiki motor menembus hutan yang terkadang juga mengharuskan berjalan kaki. Selanjutnya beliau harus berenang menyeberangi selat sejauh satu mil, hanya untuk mengajar yang berada di pulau Buaya.

Bukannya tidak ada perahu, tetapi keberangkatan perahu motor tidak sesuai dengan jam masuk sekolah, karena kalau naik perahu angkutan penumpang baru jam 08.00 pagi tibanya, sedangkan jam masuk sekolah 1 jam sebelumnya. Namun, terkadang karena terkendala cuaca yang buruk dan ombak yang tidak bersahabat, sehingga kapal tidak bisa dioperasikan. Satu-satunya cara agar dapat sampai di sekolah yaitu dengan cara berenang menyeberangi lautan.

Tidak mudah juga berenang di air laut yang berombak. Ahmad Haris sebetulnya mengenakan seragam sebagai guru saat berangkat ke sekolah dari rumahnya. Namun setelah sampai di tepi pantai, beliau melepas baju seragam dan dimasukkannya dalam sebuah tas. Sesaat kemudian beliau menuju air laut dan memulai berenang. Ahmad Haris berenang mengandalkan salah satu tangannya saja. Sebab, satu tangan lain digunakan untuk memegangi tas agar tetap berada diatas permukaan air laut dan tidak basah terkena air laut. Setelah sampai di tepi pantai pulau Buaya, Ahmad Haris kembali mengenakan baju seragam gurunya untuk selanjutnya berjalan lagi menuju sekolah tempat beliau mengajar.

Padahal jika beliau menggunakan perahu motor untuk menyebrang ke pulau Buaya, waktu tempuhnya hanya sekitar 5-10 menit saja. Daripada terlambat sampai ke sekolah untuk mengajar anak-anak yang beliau cintai. Ahmad Haris memilih resiko yang jauh lebih besar dengan berenang menaklukan ombak. Tidak ada pilihan lagi baginya selama beliau ingin mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Luar biasa perjuangan Pak Haris ini, ya.

Ahmad Haris melakukan hal tersebut setiap harinya sejak tahun 2002 silam, ketika beliau masih berstatus honor dengan gaji Rp 300.000 per bulan, yang dibayarkan per triwulan. Kalau dihitung sampai tahun ini sudah 15 tahun lebih lamanya beliau berjuang seperti itu.

Walaupun akhirnya Ahmad Haris diangkat menjadi PNS, Haris yang mengajar dari kelas 3 sampai kelas 6 ini, tetap berenang di lautan apabila ingin mengajar muridnya demi mengejar waktu tempuh agar lebih cepat sampai. Beliau berharap akan ada transportasi yang lancar untuk masyarakat, guru ataupun siswa dalam kesehariannya.

Ahmad Haris tidak sendirian, melainkan bersama enam orang guru lainnya memilih opsi berenang untuk mengajar di satu-satunya sekolah yang ada di Pulau Buaya. Ahmad Haris pernah berpikir untuk pindah ke sekolah lain, namun beliau menepis pikiran tersebut karena mengingat tidak akan ada orang lain yang dapat menggantikan dirinya, seandainya beliau tidak mengajar di sekolah tersebut.

Berkat kegigihan dan perjuangan dalam pengabdian yang Ahmad Haris lakukan, mengundang rasa haru menteri agama karena kisahnya yang menginspirasi. Oleh sebab itu, Ahmad Haris menjadi guru madrasah yang dinilai menginspirasi di Indonesia dan beliau mendapatkan penghargaan.

Secara simbolis penghargaan yang diberikan Menteri Agama kala itu yaitu Lukman Hakim Saifuddin kepada Ahmad Haris dalam sebuah acara Talkshow & Penghargaan Guru Inspiratif yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat.

Menurut Lukman Hakim Saifuddin selaku Menteri Agama saai itu, Pak Ahmad Haris merupakan sosok guru istimewa yang spirit dan perjuangannya telah menginspirasi kita semua. Bangsa dan negara ini berhutang banyak kepada beliau atas jerih payah perjuanganya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga Pak Ahmad Haris selalu diberikan kesehatan agar bisa terus mengajar untuk membagikan ilmu-ilmunya kepada anak-anak.

Lebih lanjut Menag mengatakan, berhasilnya Pak Ahmad Haris dalam menaklukkan semua tantangan ketika berangkat mengajar ke sekolah karena kekuatan keikhlasan tingkat tinggi. Kalau direfleksikan kepada diri kita, belum tentu kita sanggup melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Ahmad Haris. Kekuatan beliau, dibentuk oleh kecintaan yang luar biasa kepada anak-anak didiknya.

Perjuangan Ahmad Haris yang seorang guru penakluk lautan dari NTT seolah menjadi sebuah tamparan bagi kita semua. Melalui segala keikhlasan dan jerih payah perjuangannya, bahkan beliau mengorbankan nyawanya supaya bisa tetap mengajar siswa-siswa di sekolah.

Sungguh sebuah kisah inspiratif yang dapat dijadikan teladan untuk para guru dan siswa di seluruh Indonesia. Oleh sebab itu, mari sama-sama kita tingkatkan semangat untuk selalu berjuang dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas, khususnya kepada siswa-siswi yuk lebih ditingkatkan lagi semangat belajarnya ya. Kamu tahu kisah inspiratif lain guru lainnya? Share di kolom komentar ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *