Kisah Betty Anggraeni: Guru Peraih Penghargaan CARE Award

Sosok Ibu Guru Betty Anggraeni menjadi sorotan dan terkenal di kalangan para guru, tak hanya nasional tapi juga internasional. Pasalnya beliau mendapatkan sebuah penghargaan berkelas internasional. Tak tanggung-tanggung, Ibu Betty Anggraeni yang merupakan salah satu guru di SMP Cikal Amri Setu, Jakarta Timur, yang meraih penghargaan International CARE Award sebagai guru yang memiliki empati tinggi dalam menghadirkan proses pembelajaran bermakna dengan segala tantangan di masa pandemi, karena berpusat pada kebutuhan anak.

Pengharagaan CARE Award merupakan sebuah penghargaan yang dianugerahkan bagi para guru di dunia yang membuat langkah inovatif pembelajaran yang unik dan berbeda di sekolah maupun komunitas selama pandemi dengan kriteria 4 karakteristik, yakni Curious, Adaptable, Resilient, and Empathetic).

Penghargaan CARE Award tersebut diinisiasi oleh salah satu platform belajar-mengajar internasional untuk para guru seluruh dunia yang berpusat di Hongkong. Menurut Ibu Betty, seharusnya dunia pendidikan menjadi dunia yang menyenangkan, serta seorang guru harus memiliki rasa empati kepada muridnya dalam memberikan sebuah pembelajarannya, ujar guru yang telah berdedikasi lebih dari 10 tahun di dunia pendidikan tersebut.

Alasan Ibu Betty Berkarir Menjadi Seorang Guru?

Perjalanan karir Ibu Betty bermula ketika masih bekerja sebagai Chaperone di British International school (BIS). Beliau bertugas sebagai pengantar jemput siswa-siswi di BIS. Selama menjadi Chaperone, Ibu Betty pernah di beri kesempatan beberapa kali untuk menggantikan asisten guru kelas. Alhasil pada kesempatan itulah Ibu Betty melihat langsung proses belajar mengajar yang menyenangkan.

Semua pembelajaran yang menyenangkan tersebut berbeda dengan apa yang beliau rasakan di masa sekolahnya dulu. Semenjak itulah keinginan Ibu Betty untuk menjadi guru mulai meluap-luap. Saat itu, Ibu Betty yang hanyalah lulusan SMA. Namun, karena tekad yang kuat beliau memutuskan untuk kuliah dari hasil tabungan kerjanya. Ibu Betty akhirnya bisa kuliah dengan mengambil jurusan sastra Inggris, karena ingin menjadi guru Bahasa Inggris di sekolah. Akhirnya beliau mencari peruntungan pekerjaan sebagai guru di sekolah lain, karena di BIS untuk guru bahasa Inggris hanya bisa WNA.

Setelah mencoba dan berupaya, Ibu Betty akhirnya mendapat kesempatan mengajar di sebuah TK di dearah Jakarta Barat. Beliau mendapatkan mentor yang super kooperatif dan baik sewaktu mengajar di TK tersebut. Mentor Ibu Betty bernama Ms Evy Junaety Hutusut, yang mengajari bagaimana cara menjadi seorang guru yang tegas tetapi tetap mengajarkan dengan sepenuh hati, dan menekankan bahwa setiap anak itu mempunyai keunikannya masing-masing.

Alasan paling kuat Ibu Betty ingin menjadi seorang guru adalah karena menurut beliau guru itu bisa berperan dalam menumbuhkembangkan seorang anak menjadi lebih baik, yaitu sebagai fasilitator, model, dan juga sebagai teman.

Awal Mula Meraih Penghargaan CARE Award

Semua berawal dari keikutsertaan Ibu Betty mengikuti sebuah workshop guru internasional di Hongkong, yang dilaksanakan oleh platform pembelajaran dan pengajaran internasional bagi para guru seluruh dunia. Awal, beliau mengikuti workshop guru internasional tersebut atas informasi dari pustakawan Sekolah Cikal Amri Setu. Ada banyak bentuk workshop guru internasional dari berbagai organizers, salah satunya yaitu Be Something Different Education bagi para guru untuk pembelajaran digital.

Ketika Ibu Betty sedang mengikuti workshop pembelajaran digital tersebut, beliau mencoba mengisi sebuah asesmen pertanyaan yang terkait dengan pembelajaran di masa pandemi. Melalui asesmen tersebut, Ibu Betty menulis tentang bagaimana cara beliau mengajar di masa pandemi, kontribusi, dan cara membangun engagement antara guru dan murid, tantangan dan kesulitan yang sering dihadapi. Beliau pun juga menceritakan kesulitan serta tantangan pembelajaran yang disambung dengan usaha kami para guru dan murid dalam belajar dan berkembang di masa pandemi.

Sempat lupa dengan proses pengisian asesmen sewaktu mengikuti workshop guru internasional yang berisi cerita perjuangan dan proses pengajarannya, Ibu Betty dikejutkan dengan sebuah informasi yang resmi berasal dari pihak platform pembelajaran internasional tersebut dan menyatakan bahwa beliau terpilih menjadi salah satu nominasi guru dengan empati.

Akhirnya, pada bulan April sebelum lebaran tiba, Ibu Betty mendapatkan sebuah email resmi dari BSD Edu menyatakan bahwa beliau lolos kategori empathy untuk penghargaan Care Award 2022. Ternyata di website platform tersebut, hanya Ibu Betty satu-satunya guru yang mewakili Indonesia dari 15 guru terpilih di 4 kategori nominasi yang dihadirkan. Pada kategori Empati terdapat 4 guru terpilih dari Bloomfield High School, New Jersey, USA, Sekolah Cikal Amri Setu, Elementary Institute of Science, USA, dan Nord Anglia International School of Hong Kong.

Merasa tidak percaya bercampur dengan rasa syukur, Ibu Betty pun membagikan kabar ini ke teman-teman guru lainnya. Kabar tersebut akhirnya diapresiasi dan mendapat dukungan yang luar biasa dari sekolah, murid, para wali murid hingga keluarga Ibu Betty.

Rencana kedepan Ibu Betty setelah mendapatkan penghargaan CARE Award, tentunya tak jauh dari dunia pendidikan. Sebagai pembelajar sepanjang hayat, keinginan beliau yaitu untuk terus belajar menjadi guru yang dapat berperan sebagai teman dan fasilitator untuk para siswa-siswi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Terpilih menjadi guru dengan empati tinggi dengan mendapat penghargaan CARE Award, Ibu Betty menjelaskan bahwa alangkah baiknya kalau empati tinggi ada dalam jiwa setiap guru Indonesia.

Empati disini dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang paling penting, karena dari sana seorang guru belajar untuk mengetahui dan memahami proses belajar yang diberikan kepada para siswa-siswi, serta bagaimana memberikan pembelajaran yang sesuai karakter yang dimiliki siswa masing-masing. Langkah selanjutnya, menyesuaikan kebutuhan siswa untuk pengembangan diri mereka. Apabila para siswa belajar sesuai minat dan bakat mereka, maka di sinilah proses empati berperan, kita sebagai guru atau fasilitator dapat mendukungnya. Itulah kisah inspiratif kali ini. Salam Literasi untuk Edukasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *